"Proses pembelajaran seperti apa yang diharapkan pemerintah ?"
Proses Pembelajaran
Sebagai akademisi, tentunya akan berfikir ilmiah dalam memahami definisi. Seperti pertanyaan diatas. "Proses pembelajaran...?"
Mengutip isi pasal 3 dalam Permendikdasmen Nomor 1 tahun 2026 : "Proses pembelajaran dilaksanakan dengan saling memuliakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik dan terpadu berdasarkan prinsip pembelajaran."
Saling memuliakan. Ada siswa yang maju kedepan kelas. Tapi, salah dalam menjawab soal mudah. Hingga temen-temennya menyorakin. Guru menenangkan kondisi kelas dan bilang.
"Justru saya bangga teman mu ini. Dia telah punya pengalaman salah, sehingga akan menemukan jawaban benarnya. Selain itu, teman mu ini berjasa menunjukkan jawaban yang salah. Saya yakin diantara kalian mungkin ada yang belum tahu, kalau itu jawabannya salah."
"Dikehidupan masyarakat, kalian akan menemukan hal seperti ini. Jadi tidak elok, saat melihat teman mu mengerjakan salah dan kalian menyorakin. Bisa jadi kesalahan ini adalah informasi utk menuju sukses dimasa depan."
"Yuk, kita berika applaous buat teman kita".
Bisa jadi, itu salah satu praktik dalam memuliakan peserta didik.
Prinsip Pembelajaran
Apa saja yang jadi prinsip dalam pembelajaran ?
Masih lanjutan isi pasal 3 dalam Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026. Ada 3 (tiga) prinsip dalam pembelajaran, yaitu :
- berkesadaran;
- bermakna; dan
- menggembirakan
Berkesadaran
Berkesadaran merupakan proses pembelajaran yang membantu murid memahami tujuan pembelajaran sehingga termotivasi, aktif belajar, dan mampu mengatur diri sendiri.
"Bisa gak ? Batere 9V ini digunakan buat nge-cas HP."
Jawaban siswa riuh : "Tidaaak...". Salah satu siswa nyeletuk : "Bisa meledak HP nya Pa."
"Saya akan buat charger HP dari batere 9V ini". Terlihat wajah siswa fokus kebatere 9V ini yang saya sulap jadi charger HP.
Itu saya sampaikan saat akan memberikan topik pelajaran resistor sebagai pembagi tegangan.
Hal sepele. Hanya dengan memberikan masalah, siswa dengan sadar belajar bahwa mereka akan bisa menyulap batere 9V jadi charger HP. Dan dengan sadar mengetahui fungsi resistor bisa untuk membagi tegangan.
Bermakna
Bermakna merupakan proses pembelajaran yang terjadi ketika Murid dapat menerapkan apa yang dipelajari dan membangun pengetahuan baru dalam kehidupan nyata, secara kontekstual, dan/atau yang terkait bidang ilmu lain.
Rangakaian resistor yang dibuat tadi, bisa digunakan mereka dalam kondisi darurat kalau butuh charger HP. Bisa diimplentasikan di kehidapan keseharian mereka. Jadi gak sia-sia mereka tahu kosep resitor sebagai pembagi tegangan. Ini, jadi pelajaran bermakna buat mereka.
Menggembirakan
Menggembirakan merupakan proses pembelajaran yang positif, menantang, menyenangkan, dan memotivasi.
Merakit resistor di breadboard (papan percobaan rangkaian elektronik) hal yang menantang. Karena siswa harus berhasil mengfungiskan resistor jadi rangkaian pembagi tegangan. Biar bisa jadi charger Hp.
Siswa yang berhasil duluan, dengan bangga unjuk hasil rangkaian ke temen-temennya. Malahan bantuin temennya yang masih gagal dan ngansih tahu kesalahannya.
Kerasa deh. Suasan belajar yang membangkitkan tantangan dan menyenangkan karena buat charger HP dari batere 9V.
Semoga bermanfaat.
Salam Inovasi Salam Implementasi


Posting Komentar untuk "PROSES PEMBELAJARAN YANG DIHARAPKAN"